Tak Kenal maka Tersesatlah Pikiran

img_3908

Pic – Personal Drawing titled ‘Everyone deserves love and to be loved’

Baiklah, setelah lama tidak menulis jadi terinspirasi untuk menulis lagi karena kegiatan menulis di Urb.im sudah selesai meski dengan drama yang akan kutulis nanti hhehehe

Ini adalah cerita tentang program yang kukawal selama 20 bulan terakhir di kantor. isunya isu sensitif yang bahkan ke orang tua pun aku tidak mengaku. Hanya kepada kawan-kawan terdekatlah aku bercerita dan tentu suami

Program ini berkaitan dengan isu LGBTI (lesbian gay biseksual transeksual Interseksual). siapa yang tidak kenal kata ini. bergaung hebat gemanya sejak awal 2016. sebelumnya orang mengenal kata LGBTI dengan kata homo atau hanya mengenal waria yang bisa selalu kita jumpai di sudut kota dan kampung. Isu waria sudah cukup bisa diterima dalam masyarakat, namun lain halnya dengan LGBI

Nah, sejak September 2015 aku mulai mengerjakan program ini. Sebenarnya enggan, bukan karena isunya, tapi lebih karena ketakutan kalau mengerjakan dua proyek maka tidak akan maksimal hasilnya. Namun tertarik juga mengerjakan program LGBTI ini karena justru kencangnya stigma atas mereka. Justru ini menjadi tantangan yang menarik karena di satu sisi kita harus bisa menyelesaikan ‘perdebatan’ dalam pribadi kita dan menggunakan logika dan hati untuk menjalankan isu ini, di sisi lain artinya saya harus mampu meyakinkan orang luar yang berseberangan dengan saya bahwa yang saya lakukan  adalah benar.

Keputusan mengerjakan program ini tentunya sudah dengan kesadaran penuh bahwa akan ada resiko-resiko keamanan maupun kehilangan kawan. Jadi bismillah saja dan yakin bahwa kita membela yang seharusnya dibela sesuai dengan rasionalitasku.

Bulan September dimulailah aktivitas-aktivitas program. Rangkaian pertemuan dan diskusi dengan kawan-kawan mitra berjalan. Di saat yang sama aku juga mulai membaca tentang gender dan seksualitas, belajar ginger bread, psikologis mereka, buku-buku laporan kekerasan dan diskriminasi, membaca peta dukungan dan jaringan, dan macam- macam lainnya lah.

Melalui interaksi dan berdialog langsung itulah betapa kita sadari bahwa stigma dan label negatif tersebut dibuat atas dasar kebencian. betapa mereka yang memberikan stigma tidak paham beratnya hidup mereka, terutama kelompok transgender, yang selalu di kejar-kejar, disiksa, di bully, di tampar, di lecehkan dengan kata-kata, perbuatan dan seksual…ahh bermacam-macamlah yang kalau di dengar membuat merinding bulu kudu. tebak siapa saja yang paling banyak melakukan kekerasan terhadap mereka?? KELUARGA!!! banyak cerita dimana ketika individu LGBTI mengaku (coming out) mereka malah dipukul, tidak diakui sebagai keluarga dan diusir dari rumah. Bayangakan usia SMP kebanyakan mereka menggelandang d jalanan karena tidak diterima keluarganya. Derita di jalanan beragam pula dan resiko mereka di hajar atau bahkan diperkosa sangat besar. Subhanallah, mereka bertahan hidup pun sudah bersyukur. Akibatnya banyak dari mereka yang tidak bersekolah. Ketika dewasa mereka kesulitan memperoleh KTP karena ketiadaan KK, sehingga sulit pula mengakses BPJS dan layanan lainnya.

Itu hanya sekelumit kecil cerita dari mereka. masih banyak lagi cerita dari transmen dan transwomen misalnya yang harus berjuang untuk membentuk badannya menjadi laki-laki atau perempuan dengan berbagai pengobatan yang beresiko tinggi. Kelompok ini juga kerap mendapat pengabaikan dari keluarganya.

Selama bergaul dengan kawan-kawan kelompok ini, saya bersyukur bahwa saya memperoleh kesempatan berdialog dan berbagi cerita dengan mereka. dengan demikian saya mampu menularkan cerita-cerita tersebut demi berkurangnya stigma atas mereka. kawan baru saya ini sangat terbuka dan merupakan orang-orang yang sudah paham akan hak asasinya. Jadi saya pun belajar banyak tentang berjuang demi hak. karena sebagai mayoritas maka ada berbagai perspektif yang kadang kita terlewat dan merasa semua yang kita terima sudah take it for granted tanpa harus berjuang mati-matian. Namun dari mereka saya belajar bekerja keras demi hak kami atas manusia penduduk negara bernama indonesia.

Jadi, berdasar pengalaman ini saya cuma berpesan, berhati-hatilah dan jangan mudah memberikan label dan mengkotak-kotakkan orang lain. Dengan label itu akan muncul stigma dan menjurus kepada perilaku yang mengandung kekerasan dan diskriminasi. Bersifat adillah sejak dari pikiran kalau kata Pramoedya Ananta Toer. Yang kita perjuangkan sebenarnya adalah kesetaraan bagi siapapun yang berada di bumi ini. Kata bu Maria Hartiningsih janganlah kita memberika label minoritas dan mayoritas karena pada dasarnya kita semua sama.

Demikian lah yang bisa saya bagi dalam cerita pendek ini. Agar tidak tersesat maka kenali dulu siapa atau apa pun itu. Jangan terburu-buru membenci dan menilai buruk sesuatu. kalaupun memang tetap tidak bisa menerima, baiknya kebencian tersebut di simpan sendiri jangan disebar-sebarkan because hatred is contagious. Kebencian itu menular 🙂 Pluus jangan lupa perbanyak membaca dan belajar yaa

Cya in my next writing

Jakarta, 10 January 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s